Showing posts with label prabowo subianto. Show all posts
Menempati Posisi Atas di Beberapa Polling Akun Twitter Pasangan Prabowo-Sandiaga Uno
Menempati Posisi Atas di Beberapa Polling Akun Twitter Pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. Ferry Juliantono, Wakil Ketua Umum Gerindra mengapresiasi atas hasil dari sejumlah polling di
media sosial Twitter yang memenangkan pasangan bakal Capres dan
Cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.Polling tersebut diadakan oleh
sejumlah figur publik dan beberapa media di akun twitternya seperti Iwan
Fals, Fahira Idris dan Indonesia Lawyers Club (ILC).
“Suasananya sudah ganti presiden,” ungkap Ferry saat ditemui sejumlah awak media.
Meskipun demikian, Ferry mengungkapkan bahwa pihaknya tidak akan terlena dengan hasil polling tersebut, Sebab menurutnya hal tersebut itu bukan satu-satunya patokan.
“Jangan merasa menang di awal. Karena merasa menang di awal adalah sumber kekalahan. Patokannya kerja keras,” kata Ferry.
Salah satu hasil polling yang memenangkan pasangan Prabowo-Sandiaga di twitter adalah akun Twitter milik penyanyi Iwan Fals, @iwanfals.
Dalam polling yang diselenggarakan selama sehari pada 10
Agustus lalu itu mendapatkan hasil 67% memilih Prabowo-Sandiaga, 27%
memilih Jokowi-Maruf dan 6% Golput.
Polling lain yang menyatakan Prabowo-Sandiaga menang adalah
akun Twitter milik Indonesia Lawyers Club (ILC), @ILC_tvOnenews, dengan
angka 63% dari 110.279 responden. Jokowi-Maruf mendapat 26% dan Golput
10%.
Haedar Nashir Sampaikan Ini, Prabowo-Sandi Kunjungi PP Muhammadiyah
Haedar Nashir Sampaikan Ini, Prabowo-Sandi Kunjungi PP Muhammadiyah. Pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno mengunjungi kantor PP
Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat. Terkait dengan hal tersebut,
Haedar Nashir Ketua Umum PP Muhammadiyah memaparkan enam poin perihal
agenda strategis untuk Prabowo-Sandi.
Poin pertama, Haedar mengatakan, pemimpin negara harus mengutamakan agama, Pancasila dan kebudayaan luhur bangsa Indonesia yang hendaknya menjadi fondasi nilai dan inspirasi yang mendasar. Hal ini untuk mewujudkan kebijakan strategis serta arah moral spiritual bangsa.
“Jangan sampai ada kebijakan yang bertentangan dengan nilai dasar luhur yang hidup dalam jatidiri bangsa dan menghindari primordialisme SARA,” ucap Ketua Umum PP Muhammadiyah itu.
Poin kedua, menegakkan kedaulatan negara di bidang politik, ekonomi dan budaya termasuk dalam pengelolaan sumber daya alam. Termasuk dalam menjaga kedaulatan negara dari penetrasi asing.
Sementara itu, poin ketiga ialah seorang pemimpin negara perlu menjaga kesenjangan sosial-ekonomi secara progresif dengan kebijakan yang lebih berani.
“Keempat, rekontruksi pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia sebagai prioritas. Termasuk dan memanfaatkan 20 persen anggaran pendidikan sebagaimana mana amanat konstitusi,” tuturnya.
Poin kelima, pemerintah harus mampu melakukan kebijakan reformasi birokrasi yang progresif dan sistemik dengan prinsip good governance. Menjunjung tinggi meritokrasi tanpa disandera kepentingan politik partisan.
“Terakhir, melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif dan berdaulat dalam melindungi kepentingan dalam negeri, serta menjadikan Indonesia selaku negara dengan penduduk muslim terbesar sebagai kekuatan strategis di dunia Islam,” jelas Haedar.
Prabowo mengungkapkan terima kasih atas penerimaan kunjungan dari pengurus PP Muhammadiyah. Bakal Capres Prabowo berharap PP Muhammadiyah menjadi ajang pembuka diskusi untuk memantapkan dirinya bersama Sandi maju Pilpres 2019 mendatang.
“Kami berharap bahwa Muhammadiyah bisa membuka pintu untuk bisa berdiskusi ilmiah, tapi kajian ilmiah supaya saat maju ke rakyat berdasarkan fakta bukan berdasarkan selera,” papar Prabowo Subianto Bakal Capres 2019.
Poin pertama, Haedar mengatakan, pemimpin negara harus mengutamakan agama, Pancasila dan kebudayaan luhur bangsa Indonesia yang hendaknya menjadi fondasi nilai dan inspirasi yang mendasar. Hal ini untuk mewujudkan kebijakan strategis serta arah moral spiritual bangsa.
“Jangan sampai ada kebijakan yang bertentangan dengan nilai dasar luhur yang hidup dalam jatidiri bangsa dan menghindari primordialisme SARA,” ucap Ketua Umum PP Muhammadiyah itu.
Poin kedua, menegakkan kedaulatan negara di bidang politik, ekonomi dan budaya termasuk dalam pengelolaan sumber daya alam. Termasuk dalam menjaga kedaulatan negara dari penetrasi asing.
Sementara itu, poin ketiga ialah seorang pemimpin negara perlu menjaga kesenjangan sosial-ekonomi secara progresif dengan kebijakan yang lebih berani.
“Keempat, rekontruksi pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia sebagai prioritas. Termasuk dan memanfaatkan 20 persen anggaran pendidikan sebagaimana mana amanat konstitusi,” tuturnya.
Poin kelima, pemerintah harus mampu melakukan kebijakan reformasi birokrasi yang progresif dan sistemik dengan prinsip good governance. Menjunjung tinggi meritokrasi tanpa disandera kepentingan politik partisan.
“Terakhir, melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif dan berdaulat dalam melindungi kepentingan dalam negeri, serta menjadikan Indonesia selaku negara dengan penduduk muslim terbesar sebagai kekuatan strategis di dunia Islam,” jelas Haedar.
Prabowo mengungkapkan terima kasih atas penerimaan kunjungan dari pengurus PP Muhammadiyah. Bakal Capres Prabowo berharap PP Muhammadiyah menjadi ajang pembuka diskusi untuk memantapkan dirinya bersama Sandi maju Pilpres 2019 mendatang.
“Kami berharap bahwa Muhammadiyah bisa membuka pintu untuk bisa berdiskusi ilmiah, tapi kajian ilmiah supaya saat maju ke rakyat berdasarkan fakta bukan berdasarkan selera,” papar Prabowo Subianto Bakal Capres 2019.
Emak-emak Dan Mujahidah Deklarasikan Dukung Prabowo-Sandi Pilpres 2019
Emak-emak Dan Mujahidah Deklarasikan Dukung Prabowo-Sandi Pilpres 2019. Pasca pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno mejadi
Capres/Cawapres pada pilpres 2019, banyak kelompok masyarakat yang
mendeklarasikan dukungan kepada pasangan tersebut.
Salah satunya ratusan perempuan mengatasnamakan “Mujahidah dan Emak-emak Militan” yang tergabung dalam Ustadzah Peduli Negeri ikut serta mendeklarasikan kelompoknya untuk mendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019 mendatang.
Nurdiati Akma, Koordinator Ustadzah Peduli Negeri mengungkapkan bahwa pasangan Prabowo-Sandi lebih dekat pembelaannya kepada umat Islam ketimbang pasangan petahanan.
“Kita ingin ketidakadilan (rezim saat ini) bisa diakhiri, dimana ulama ditangkapi, ustadz dipenjara, dan sebagainya,” ungkapnya di Gedung Dakwah Asyiyah, Tebet, Jakarta Selatan.
Nurdiakti menjelaskan pula bahwa gerakan tersebut tidak hanya berada di Jakarta, namun sudah memiliki jejaring ke beberapa daerah di Indonesia seperti Aceh, Lampung, hingga Sulawesi.
Para ustadzah yang tergabung berhimpun dalam organisasi Forum Silaturahim Antar Pengajian (FORSAP) dan Badan Koordinasi Majelis Taklim Masjid.
Ia menyebut, gerakan tersebut tidak memiliki kekuatan secara materi, Nurdiati menuturkan bagaimana ketika Pilkada DKI Jakarta lalu, pihaknya juga membuat gerakan yang sama.
“Waktu melawan Ahok kami juga tidak punya apa-apa. Gerakan kami berdoa, minta kepada Allah, dan apa saja yang bisa kami lakukan,” tutur Koordinator Ustadzah Peduli Negeri itu.
Salah satunya ratusan perempuan mengatasnamakan “Mujahidah dan Emak-emak Militan” yang tergabung dalam Ustadzah Peduli Negeri ikut serta mendeklarasikan kelompoknya untuk mendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019 mendatang.
Nurdiati Akma, Koordinator Ustadzah Peduli Negeri mengungkapkan bahwa pasangan Prabowo-Sandi lebih dekat pembelaannya kepada umat Islam ketimbang pasangan petahanan.
“Kita ingin ketidakadilan (rezim saat ini) bisa diakhiri, dimana ulama ditangkapi, ustadz dipenjara, dan sebagainya,” ungkapnya di Gedung Dakwah Asyiyah, Tebet, Jakarta Selatan.
Nurdiakti menjelaskan pula bahwa gerakan tersebut tidak hanya berada di Jakarta, namun sudah memiliki jejaring ke beberapa daerah di Indonesia seperti Aceh, Lampung, hingga Sulawesi.
Para ustadzah yang tergabung berhimpun dalam organisasi Forum Silaturahim Antar Pengajian (FORSAP) dan Badan Koordinasi Majelis Taklim Masjid.
Ia menyebut, gerakan tersebut tidak memiliki kekuatan secara materi, Nurdiati menuturkan bagaimana ketika Pilkada DKI Jakarta lalu, pihaknya juga membuat gerakan yang sama.
“Waktu melawan Ahok kami juga tidak punya apa-apa. Gerakan kami berdoa, minta kepada Allah, dan apa saja yang bisa kami lakukan,” tutur Koordinator Ustadzah Peduli Negeri itu.
Tempatkan Prabowo-Sandi Sebagai Pemenang, Hasil Poling Iwan Fals di Twitter
Tempatkan Prabowo-Sandi Sebagai Pemenang, Hasil Poling Iwan Fals di Twitter. Setelah pengumuman pasangan capres-cawapres pada Pilpres 2019, banyak
berbagai pihak melakukan poling di media sosial. Poling tersebut
dilakukan tak lain hanya ingin mengetahui pilihan pengguna media sosial
terkait sosok siapa capres-cawapres yang menjadi pilihannya.
Salah satunya, musisi ternama Iwan Fals yang melakukan poling terkait kedua pasang capres-cawapres di akun Twitter-nya. Ia membuat voting pada 10 Agustus 2018 lalu.
Ia menyingkat nama pasangan capres-cawapres Jokowi- Ma’ruf Amin dengan singkata JokMar. Sementara pasangan capres-cawapres Prabowo-Sandiaga Uno disingkat PraSan.
Dari poling yang telah dilakukan, ternyata pasangan Prabowo-Sandiaga Uno memperoleh poling terbanyak dengan memperoleh 68 persen. Sementara pasangan Jokowi-Ma’ruf hanya memperoleh 27 persen. Lalu untuk yang tidak memilih keduanya hanya 5 persen. Voting tersebut diikuti oleh 50.216 netizen.
Sandiaga Uno, Bakal calon wakil presiden menyikapi hasil poling tersebut dengan merespons dirinya dianggap lebih milenial dibanding bakal capres petahana Presiden Joko Widodo.
Menurut Sandi, milenial dilihat dari siapa yang memiliki terobosan di bidang ekonomi.
“Pak Jokowi milenial banget. Saya lihat ini bukan siapa lebih milenial tapi siapa yang bisa membuat satu terobosan dibidang ekonomi yang berdampak pada lapangan pekerjaan, berdampak kepada harga-harga yg terjangkau,” papar bakal calon Cawapres 2019 itu saat ditemui di Jakarta.
Sandiaga Uno mengatakan dengan begitu akan berdampak pada percepatan pembangunan dan menjadi isu utama di Pilpres 2019 yang akan datang.
“Berdampak kepada percepatan pembangunan dan itu yang saya rasa menjadi isu utama dari pemilihan presiden di 2019,” tutur mantan wakil gubenur jakarta itu.
Salah satunya, musisi ternama Iwan Fals yang melakukan poling terkait kedua pasang capres-cawapres di akun Twitter-nya. Ia membuat voting pada 10 Agustus 2018 lalu.
Ia menyingkat nama pasangan capres-cawapres Jokowi- Ma’ruf Amin dengan singkata JokMar. Sementara pasangan capres-cawapres Prabowo-Sandiaga Uno disingkat PraSan.
Dari poling yang telah dilakukan, ternyata pasangan Prabowo-Sandiaga Uno memperoleh poling terbanyak dengan memperoleh 68 persen. Sementara pasangan Jokowi-Ma’ruf hanya memperoleh 27 persen. Lalu untuk yang tidak memilih keduanya hanya 5 persen. Voting tersebut diikuti oleh 50.216 netizen.
Sandiaga Uno, Bakal calon wakil presiden menyikapi hasil poling tersebut dengan merespons dirinya dianggap lebih milenial dibanding bakal capres petahana Presiden Joko Widodo.
Menurut Sandi, milenial dilihat dari siapa yang memiliki terobosan di bidang ekonomi.
“Pak Jokowi milenial banget. Saya lihat ini bukan siapa lebih milenial tapi siapa yang bisa membuat satu terobosan dibidang ekonomi yang berdampak pada lapangan pekerjaan, berdampak kepada harga-harga yg terjangkau,” papar bakal calon Cawapres 2019 itu saat ditemui di Jakarta.
Sandiaga Uno mengatakan dengan begitu akan berdampak pada percepatan pembangunan dan menjadi isu utama di Pilpres 2019 yang akan datang.
“Berdampak kepada percepatan pembangunan dan itu yang saya rasa menjadi isu utama dari pemilihan presiden di 2019,” tutur mantan wakil gubenur jakarta itu.
Kebaikan Prabowo Subianto Menjadi Kesialan Dalam Isu Dugaan Menculik Aktivis Tahun
Kebaikan Prabowo Subianto Menjadi Kesialan Dalam Isu Dugaan Menculik Aktivis Tahun . Prabowo Subianto, Ketua umum Gerindra kembali maju sebagai Capres
pada Pilpres 2019 yang akan datang, Isu penculikan aktivis pada
1997-1998 pun kembali ramai di media sosial.
Sebuah video Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun yang menceritakan kesialan Prabowo Subianto saat aksi penculikan pun diunggah di youtube pada 11 Agustus 2018 lalu.
“Prabowo itu salah satu yang diperintah, jdi ada beberapa satuan yang diperintah untuk mengantisipasi kelompok2 aktivis pada tahun 1997,” ucap Cak.
Namun, Cak Nun menyebut Prabowo Subianto mendapat kesialan saat menjalankan perintah tersebut.
“Nah sialnya, Prabowo itu ketika dia menculik tapi tidak dimusnahkan, terus jadi orang hilang itu. Yang diculik oleh pasukannya Prabowo ini dikembalikan ke masyarakat. Makanya sekarang mereka ikut Gerindra. Memang diculik, tapi ora dipateni. ngono loh, iki salahe dee neng kene kui (itu salahnya dia disitu itu). Kudune dipateni ora ono masalah wes, sebagaimana kelompok-kelompok yang lain. Makanya Pius (Pius Lustrilanang), Haryanto Taslam, mereka ikut Gerindra sejak awal, mereka berterima kasih kepada Prabowo ngono loh,” ujar Cak Nun.
Haryanto Taslam kini telah meninggal dunia. Di meninggal di Jakarta pda 14 Maret 2015 pada usia 60 tahun.
Haryanto Taslam disebut biasa dipanggil “Hartas” adalah seorang tokoh politik yang dikenal sebagai mantan aktivis era reformasi 1998 dan menjadi salah satu korban penculikan bersama dengan sejumlah aktivis demokrasi pada periode 1996-1998 seperti, Desmond Junaidi Mahesa, Pius Lustrilanang, Faisol Reza, Rahardjo Walujo Djati, Nezar Patria, Aan Rusdianto, Mugianto, Andi Arief.
Sebelumnya ia juga pernah menjadi Pemimpin Perusahaan Tabloid Detik yang dibredel pada 21 Juni 1994. Selain itu, ia juga pernah bergabung dengan partai PDI perjuangan dan menjadi anggota DPR periode 1999-2004 dari PDIP.
Kenangan dan pemikirannya sempat dituangkan dalam sebuah buku yang berjudul ’40 Hari Digenggam Kekuasaan’, terbitan Forum Indonesia Maju dan diterbitkan pada tahun 2008. Buku tersebut berisi pengalaman pribadinya pada saat penculikan selama 40 hari tahun 1998.
Hubungan Haryanto Taslam dengan Gerindra baru terjalin pada tahun 2009. Dia berpindah dari PDIP ke Partai Gerindra. Di Partai Gerindra yang didirikan Prabowo Subianto, Haryanto Taslamaktif sebagai Direktur Media Center di partai ini. Selanjutnya sejak tahun 2012, Hartas menjadi Dewan Pembina di Partai Gerindra.
Begitu juga dengan Pius Lustrilanang juga terjun ke politik dengan masuk ke partai Gerindra dan dikenal sebagai panglima Roemah Djoeang, inkubator politik Gerindra. Begitu juga dengan Desmond yang saat ini menjadi petinggi partai Gerindra.
Hari ini ketika Jokowi dan Prabowo Subianto kembali bertarung di Pilpres 2019. Isu penculikan kembali di goreng meski dianggap usang dan tidak masuk akal karena seperti kata cak nun orang-orang yang dituduhkan di culik oleh Prabowo ternyata bergabung bersama Prabowo. Lalu apa pantas kata penculik dan pelanggar ham ditujukkan ke prabowo.
Sebuah video Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun yang menceritakan kesialan Prabowo Subianto saat aksi penculikan pun diunggah di youtube pada 11 Agustus 2018 lalu.
“Prabowo itu salah satu yang diperintah, jdi ada beberapa satuan yang diperintah untuk mengantisipasi kelompok2 aktivis pada tahun 1997,” ucap Cak.
Namun, Cak Nun menyebut Prabowo Subianto mendapat kesialan saat menjalankan perintah tersebut.
“Nah sialnya, Prabowo itu ketika dia menculik tapi tidak dimusnahkan, terus jadi orang hilang itu. Yang diculik oleh pasukannya Prabowo ini dikembalikan ke masyarakat. Makanya sekarang mereka ikut Gerindra. Memang diculik, tapi ora dipateni. ngono loh, iki salahe dee neng kene kui (itu salahnya dia disitu itu). Kudune dipateni ora ono masalah wes, sebagaimana kelompok-kelompok yang lain. Makanya Pius (Pius Lustrilanang), Haryanto Taslam, mereka ikut Gerindra sejak awal, mereka berterima kasih kepada Prabowo ngono loh,” ujar Cak Nun.
Haryanto Taslam kini telah meninggal dunia. Di meninggal di Jakarta pda 14 Maret 2015 pada usia 60 tahun.
Haryanto Taslam disebut biasa dipanggil “Hartas” adalah seorang tokoh politik yang dikenal sebagai mantan aktivis era reformasi 1998 dan menjadi salah satu korban penculikan bersama dengan sejumlah aktivis demokrasi pada periode 1996-1998 seperti, Desmond Junaidi Mahesa, Pius Lustrilanang, Faisol Reza, Rahardjo Walujo Djati, Nezar Patria, Aan Rusdianto, Mugianto, Andi Arief.
Sebelumnya ia juga pernah menjadi Pemimpin Perusahaan Tabloid Detik yang dibredel pada 21 Juni 1994. Selain itu, ia juga pernah bergabung dengan partai PDI perjuangan dan menjadi anggota DPR periode 1999-2004 dari PDIP.
Kenangan dan pemikirannya sempat dituangkan dalam sebuah buku yang berjudul ’40 Hari Digenggam Kekuasaan’, terbitan Forum Indonesia Maju dan diterbitkan pada tahun 2008. Buku tersebut berisi pengalaman pribadinya pada saat penculikan selama 40 hari tahun 1998.
Hubungan Haryanto Taslam dengan Gerindra baru terjalin pada tahun 2009. Dia berpindah dari PDIP ke Partai Gerindra. Di Partai Gerindra yang didirikan Prabowo Subianto, Haryanto Taslamaktif sebagai Direktur Media Center di partai ini. Selanjutnya sejak tahun 2012, Hartas menjadi Dewan Pembina di Partai Gerindra.
Begitu juga dengan Pius Lustrilanang juga terjun ke politik dengan masuk ke partai Gerindra dan dikenal sebagai panglima Roemah Djoeang, inkubator politik Gerindra. Begitu juga dengan Desmond yang saat ini menjadi petinggi partai Gerindra.
Hari ini ketika Jokowi dan Prabowo Subianto kembali bertarung di Pilpres 2019. Isu penculikan kembali di goreng meski dianggap usang dan tidak masuk akal karena seperti kata cak nun orang-orang yang dituduhkan di culik oleh Prabowo ternyata bergabung bersama Prabowo. Lalu apa pantas kata penculik dan pelanggar ham ditujukkan ke prabowo.




